Bukankah semua agama mengajarkan kita untuk berbuat baik, saling mengasihi sesama. Tetapi ternyata, berbuat baik dan menjadi orang baik itu tidak semudah teorinya. Kalau kepada orang yang baik kepada kita, lantas kita balas baik kepadanya. Tentu saja ini akan jauh lebih mudah. Walau ada juga yang istilahnya Air Susu Dibalas Dengan Air Tuba. Istilah ini muncul sebagai ungkapan bagaimana susahnya menjadi manusia yang baik ..
Mungkin terkesan saya naive, tetapi saya percaya awalnya kita semua manusia dilahirkan baik. Dari bayi yang tidak tahu apa-apa, bagaikan kertas polos, bagaimana bisa tiba-tiba menjadi jahat ..?atau mungkin kehilangan motivasi untuk tetap berbuat baik. Misalnya, seperti saat ini ketika sedang beranjak dewasa dikecewakan, ditipu, atau dibohongi orang sehingga akhirnya orang yang baik pun bisa menjadi orang yang penuh curiga dan waspada ..
Kadang saya melihat orang yang berlaku curang, kehilangan hati nurani, atau sudah tidak bisa mendengar bisikan batin mereka sendiri untuk memilih berbuat yang baik daripada yang jahat. Atau, memilih melakukan hal yang benar (walau tidak ada yang melihat) daripada melakukan yang jahat (walaupun ada atau tidak ada yang melihat) ..
Contoh, cerita seorang istri tentang yang suaminya suka memukulinya kalau kebetulan sedang tidak ada uang. Suaminya memang bekerja sebagai pelayan restoran dan gajinya pas-pasan. Si suami selalu melampiaskan kekurangan uang kepada istri sendiri, bukan hanya secara omongan tetapi juga secara fisik (main tangan). Dalam keadaan kepepet seperti ini, ada kenalan sang istri yang mengajak untuk menjadi PSK (Pekerja Seks Komersial). Job deskription-nya adalah untuk melayani para pria hidung belang ..
Kita sebagai pembaca tahu ini salah, dan hal ini tidak baik. Tetapi, demi anak, demi suami, akhirnya itu dikerjakan juga. Kalau tidak ketangkap sih tidak akan ada yang tahu istri ini sedang melakukan apa. Tetapi, kalau beritanya sampai tercertak di koran–kita semua tidak mau tahu kenapa dan apa alasannya—hanya tahunya ada seorang wanita yang melakukan tindakan yang bukan saja tidak baik, tetapi juga melanggar hukum.
Bagi saya, kalau saya tahu alasan kenapa wanita ini memilih menjadi “PSK”, saya pastinya akan lebih lebih berempati dengannya dan memaklumi bahwa kadang desakan dan cobaan untuk berbuat melawan hati nurani datang dari hal-hal yang di luar keinginan si pelaku ..
Nah, sama dengan segala jenis kasus seperti diatas lainnya, saya yakin ada suatu proses di kehidupannya yang membentuk dirinya menjadi orang jahat. Dengan bekal pengertian itu, saya mempunyai rasa syukur dan juga motivasi untuk terus berbuat baik. Akhirnya saya sadar, berbuat baik—bahkan asal masih ada keinginan untuk berbuat baik, kita tidak usah menunggu, “Mana sih hadiah atau reward-nya? Aku kan sudah jadi orang baik, niiiih… mana reward-nya?”
Biasa tanpa disadari, kita merasa demikian. Namun, justru rasa ingin berbuat baik, kalau masih ada dalam diri kita, itu saja sudah hadiah. Begitu kita kehilangan rasa ingin menjadi baik, kita sebenarnya sudah dalam tahap sangat amat menderita atau dilukai orang sedemikian rupa, dan membiarkan luka terus ada di sana. Ada memang istilah “nasi sudah menjadi bubur”, kalau sudah jadi bubur saya pikir masih enggak apa, ‘kan? Masih bisa di makan. Tetapi, kalau nasi telah menjadi basi, mau diapakan lagi? Dimakan juga sudah tidak bisa.
So, apa pun yang terjadi di kehidupan kita, ditipu orang atau di kecewakan, itu sudah terlanjur, seperti nasi sudah menjadi bubur, mendingan buburnya kita nikmati daripada kita berkeras hati membuat nasi menjadi basi, dan akhirnya kehilangan semua motivasi untuk melakukan hal yang baik.
Besok, dan seterusnya, suatu kebaikan apa saja yang saya terima, saya mau mencoba untuk melakukan / meneruskannya kepada orang lain. Mungkin, orang itu sangat butuh ‘angin segar’ dengan diberi kebaikan (air susu) setelah seharian minum air tuba.
20.42 |
Category: |
0
komentar


Comments (0)