Kita sering terjebak dengan suatu pesan yang tampak seperti benar tetapi sebenarnya itu jauh dari kebenaran. Seperti tampak pada pesan gambar ini misalnya, sekilas kita bisa menyetujuinya. Tetapi bila kita mau sebentar saja untuk merenunginya maka tentu kita tidak akan menyetujuinya.


“Lebih Baik Nakal Tapi Jujur Dari Pada Baik Tapi Munafik”


Sebenarnya ini adalah pesan dari kegelisahan hati yang kehilangan control, dan tetap ingin dianggap wajar dengan sikap yang ia tampilkan. Dengan kelakuannya itu seolah-olah dia sudah melakukan kejujuran, padahal sebenarnya ia telah mengkhianati kepercayaan serta harapan orang tuanya.


Bukankah “Kejujuran itu mengajak kepada kebaikan?” maka tidak mungkin kejujuran itu berada pada kenakalan. Kenakalan itu sebagian dari bentuk sikap yang tidak baik. Apakah karena berani mempertontonkan kenakaln maka dikatakan jujur.?Sungguh aneh jika seseorang meras bangga atas kenakalannya.


Seringkali kita salah dalam mengartikan kata munafik.Sehingga ketika kita tidak mau melakukan sesuatu yang tidak baik tetapi kita menyukainya,dikatakan munafik. Ketahuilah dalam diri kita terdapat nafsu dan nafsu senantiasa mengajak kepada yang tidak baik. Dengan nafsu kita dapat menyukai dan menginginkan sesuatu bahkan kenakalan atau perbuatan tidak baik sekalipun. Tetapi kita tahu itu tidak boleh kita lakukan, maka kita pun berusaha untuk menghindarinya. Maka jangan dikatakan munafik kalau kita tidak suka atau tidak melakukannya.  Karena jika dikatakan munafik maka itu berarti tidak ada ibadah. Lalu apakah artinya perbuatan orang yang sholeh, karena mereka juga mempunyai nafsu, tapi mereka lebih memilih untuk mengendalikannya..??

  
 "Sesungguhnya kejujuran tidak akan tercampur dengan kenakalan"


Kemunafikan tidak akan pernah berada di tempat yang baik, karena dengan sendirinya kemunafikan akan menunjuk kepada ketidakbaikan. Maka tidak benar jika mengatakan “Baik Tapi munafik”, karena kemunafikan itu bukan kebaikan. Tiada yang tahu sebenarnya tentang kebusukan hati seseorang kecuali Tuhan. Maka biarlah Dia yang menghakiminya. Semoga kita terus bisa bangkit untuk membenahi diri meski dalam keadaan terpuruk dan bersalah sekalipun.

Comments (0)