Jika membahas ada banyak media sosial yang kini aktif hingga 2015, mungkin takkan ada habisnya karena jumlahnya bisa mencapai ratusan. Namun kita pun harus filter sosial media yang akan kita daftar, pilihlah media sosial yang kira-kira bisa menambah jaringan, wawasan dan bermanfaat bagi kehidupan kita. Jangan sembarangan mendaftar sosial media, apalagi jika kita memang tidak ada niat dan tujuan yang pasti. Jangan sampai sosial media justru membuat kita masuk dalam pergaulan yang menyesatkan.

Sosial media hendaknya dimanfaatkan untuk kegiatan yang positif, Facebook misalnya, kita bisa memanfaatkannya untuk menemukan teman-teman lama kita sehingga bisa bersua kembali. Nostalgia sering kita rasakan di sosial media yang satu ini, sehingga tak heran jika peminatnya sangat banyak.

Tapi ada perilaku yang lebih dikenal dengan istilah narsis, tidak hanya pada kalangan masyarakat umum, kalangan ellite seperti pejabat publik dan selebritis pun sudah terjangkit perilaku narsis. dan kini juga muncul istilah baru yang dikenal dengan selfie. Selfie atau memotret diri sendiri kemudian mengunggahnya ke jejaring sosial media, hal ini dinilai bisa berakibat buruk bagi diri sendiri.


"Pernah gak sih melihat foto profil orang di sosial media, namun yang dipasang adalah foto orang lain?"
"Jika foto yang dipasang tersebut adalah foto artis mungkin masih mahfum ya. Namun kalo yang dipakai adalah foto orang biasa, tidak kenal, asal comot dari google atau pun sosial media, wah….."

"Mungkin terkesan remeh. Namun kalau sudah dipakai untuk hal yang tidak baik… akibatnya sudah bukan remeh lagi kan?"
***
Tempo lalu, ada sebuah artikel memuat tulisan yang menceritakan tetang seseorang yang marah-marah di sebuah group karena ia merasa tertipu oleh seorang penjual. Orang tersebut sudah membayar sejumlah uang kepada si penjual, namun setelah itu tidak ada kabarnya lagi. Bahkan saat hendak menghubungi si penjual tadi, ia seolah lenyap ditelan bumi.


Tentu saja si pembeli ini tak terima. Ia marah dan memposting foto penjualnya di internet, termasuk nomor telepon, pin bb juga facebooknya, dll. Namun ternyata foto yang dipakai si penjual tadi adalah foto orang lain. Barang dagangannya pun juga mencomot barang dagangan orang lain.


Selain si pembeli yang dirugikan, tentu yang lebih kasihan lagi adalah orang yang fotonya dicatut si penjual tadi, karena ia tidak tahu apa-apa namun terkena imbasnya, apalagi sampai informasi tidak benar itu tersebar di dunia maya dimana nama baiknya bisa jatuh…
Duh…. semoga jangan ada lagi yaa…


***


Selain itu, jasa edit foto juga sedang marak saat ini. Bahkan ada yang hanya dengan imbalan pulsa 5rb saja seseorang bisa mendapatkan foto “cantik” (foto milik orang lain, hanya bagian wajah saja yang diganti dengan wajah si pemesan editan foto).

Foto orang yang jerawatan saja bisa diilangin. Yang matanya merem pas difoto bisa dibikin melek. Yang kulitnya gelap bisa diterangin. Yang matanya kecil bisa dibelokin. Yang bibirnya lebar bisa disensualin. Yang badannya pendek bisa ditinggiin. Yang badannya gemuk bisa dikurusin. Yang fotonya sudah tua bisa dimudain. Yang fotonya pake baju bisa jadi toples ... Hebat kan ..heheee ..

"Lalu bagaimana ya agar foto-foto kita semua tidak disalahgunakan?"

Jawaban adalah : "jangan upload foto di internet"  

"Yaa susah dong, apalagi sekarang jamannya ngeksis dan narsis di sosial media!"

Yaa ditimbang-timbang lagi saja apa manfaat yang kita dapat dari pajang-pajang foto kita di sosial media, plus resikonya. Karena kalau fotonya sudah masuk  internet… seolah-olah kita sudah susah untuk mengontrol kemana larinya foto-foto itu.
Mungkin pendekatan yang agak aman adalah cukup sharing dengan orang-orang yang benar-benar kita kenal saja.
Toh manfaatnya buat sekedar saling update kabar kan?
 

Comments (0)